Awas, Pendapatan Migas Bikin Terlena !

Posted on Oktober 19, 2010

0


Tue, Oct 5th 2010, 08:32.  Rapat Finalisasi Draf Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Bagi Hasil Migas Aceh telah menerima usulan perluasan areal bagi hasil migas Aceh. Arealnya ke depan tidak lagi sampai 12 mil dari garis terluar pantai Aceh, tapi justru sampai pada batas 200 mil. Aceh sangat berkepentingan untik perluasan areal bagi hasil migas mengingat, —hasil penelitian para ahli migas dunia— deposit migas terdapat di wilayah yang melebihi 12 mil.

Besaran usulan bagi hasil migasnya, Pemerintah Aceh akan mengusulkan sama seperti yang telah diterima saat ini, yakni 70:30. Maksudnya 70 persen keuntungan yang diperoleh dari hasil penjualan migas untuk Pemerintah Aceh dan 30 persen untuk pemerintah pusat.

Selain itu, Aceh diberi kewenangan untuk membentuk Badan Pengelola Migas sendiri yang fungsinya sama seperti BP Migas. Jadi, jika ada perusahaan asing maupun nasional yang ingin mengeksplorasi dan eksploitasi sumber migas di Aceh, harus lebih dulu mendapat persetujuan dari BP Migas Aceh.

Dari berita itu tersirat adanya rasa bangga Pemerintah Aceh. Dan, itu mengindikasikan bahwa Pemerintah Aceh sekarang masih menggantungkan pertumbuhan perekonomiannya pada sektor Migas. Adalah Andy Arfah, seorang praktisi perminyakan lulusan ITB Bandung, setahun lalu memberi pencerahan kepada kita semua melalui satu artikel yang dimuat harian ini.

Katanya, “Ekonomi Aceh justru bisa tumbuh lebih cepat jika `mengesampingkan’ sektor migas. Artinya, pemerintah bisa lebih kreatif berfikir dan berusaha untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi melalui sektor-sektor lainnya. Seperti kata Jawaharlal Nehru Crisis and deadlocks when they occur have at least this advantage, that they force us to think”.

Ia jelaskan, dalam dunia perminyakan dikenal siklus hidup suatu lapangan, dimana pada fase-fase awal lapangan dikembangkan kita akan mendapati produksi yang terus merangkak naik (ramp up) hingga pada suatu saat produksi akan menyentuh titik maksimum (peak-plateu) dan kemudian produksi terus turun (decline) hingga batas keekonomian pengusahaannya.

Jika melihat sejarah panjang perminyakan di Aceh, maka dapat dikatakan lapangan-lapangan yang ada di Aceh sekarang adalah lapangan-lapangan tua yang telah memasuki fase penurunan produksi. Minimnya penemuan lapangan dan cadangan baru juga membuat penurunan produksi migas Aceh secara kumulatif menjadi lebih cepat.

Celakanya, rakyat Aceh paling sering diberi harapan dengan adanya informasi tentang penemuan sejumlah ladang minyak baru di Aceh Timur, di Aceh Utara, di Simeulue, dan lain-lain. Tidak jelas apa maksudnya. Atau memang ada unsur politis di baliknya.

Harusnya, rakyat dan Pemerintah Aceh sudah saatnya mengubah paradigma yang selama ini menganggap Aceh adalah daerah kaya migas, ke paradigma  baru bahwa sesungguhnya Aceh lebih kaya sumber daya pertanian, perikanan, dan hasil bumi lainnya. Makanya, meningkatkan pertumbuhan ekonominya, Aceh sudah harus pelan-pelan melepaskan diri dari kebergantungannya pada sektor migas. Ya, “Jaro bak langai mata u pasai.”

Ditandai: ,
Posted in: Indonesia