Tahun Pahit Petani Tembakau

Posted on Oktober 10, 2010

0


Kompas. Minggu, 10 Oktober 2010 | 03:38 WIB.

Tembakau telah menjadi komoditas unggulan di negeri ini sejak pemerintah kolonial Belanda masih menguasai wilayah Nusantara. Puluhan tahun seusai penjajahan berakhir, ribuan petani di berbagai pelosok masih mengandalkan tembakau sebagai komoditas utama, terutama saat musim kemarau. Petani di daerah penghasil tembakau di Jawa Tengah, seperti Klaten, Boyolali, Sukoharjo, dan Temanggung, telah menikmati hasil budidaya tembakau secara turun-temurun.

Namun, cerita kejayaan tembakau sebagai komoditas unggulan seolah sirna pada tahun ini. Adanya Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Pengamanan Produk Tembakau sebagai Zat Aditif bagi Kesehatan serasa bagai sandungan bagi para petani. Pro kontra tentang hal itu diikuti protes ribuan petani yang menolak disahkannya peraturan tersebut karena dianggap mengancam kelangsungan hidup mereka.

Saat petani khawatir adanya pembatasan produk tembakau, guncangan lebih dahsyat datang dalam bentuk anomali cuaca yang diikuti perubahan cuaca ekstrem dan sulit diprediksi. Pergeseran musim kemarau dan hujan membuat petani kesulitan menentukan pola tanam. Dampaknya pun, tanaman tembakau rentan terserang hama ataupun rusak karena hujan sebelum bisa dipanen.

Daun-daun yang bisa dipanen kualitasnya tak sebaik tahun- tahun sebelumnya. Tingginya curah hujan membuat kadar air naik sehingga mengurangi citra rasa tembakau. Merosotnya kualitas membuat harganya anjlok. Petani membutuhkan waktu lebih lama untuk menghasilkan daun tembakau kering siap jual.

Tersendatnya produksi tembakau di Indonesia membuat pemenuhan permintaan ekspor terancam seret. Padahal, tembakau-tembakau asli Nusantara merupakan produk unggulan di pasar tembakau di Jerman, Kanada, ataupun Amerika Serikat. Konon, tembakau asal Indonesia merupakan bahan cerutu terbaik di dunia.

Terlepas dari pro kontra pembatasan produk tembakau, nasib petani saat ini serasa di titik nadir. Saat tembakau tak lagi bisa diharapkan, petani harus memiliki komoditas alternatif lain untuk menyambung hidup. Bagi sebagian besar petani, nasib mereka kini tak seharum aroma tembakau, tetapi sepahit rasa tembakau.

Teks dan foto-foto: IWAN SETIYAWAN

Ditandai: ,
Posted in: Uncategorized